Sebagai salah satu lembaga dakwah mahasiswa di
Indonesia, Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) yang berpusat di Makassar
mengadakan Bedah Buku Nasional “Panduan MUI, Mengenal dan Mewaspadai
Penyimpangan Syiah di Indonesia” pada hari Sabtu, 21 Rabi’ul Akhir 1435H/
22 Februari 2014.
Acara
ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan mahasiswa terhadap para pengikut syiah
yang terus mendakwahkan agama sesat mereka. LDK-LDK yang tergabung dalam
LIDMI bermusyawarah menentukan kegiatan yang tepat untuk menyadarkan masyarakat
akan bahaya syiah ini. Setelah mendengarkan berbagai pertimbangan yang
ada, ditetapkanlah Bedah Buku Nasional “Panduan MUI, Mengenal dan Mewaspadai
Penyimpangan Syiah di Indonesia” sebagai kegiatan yang akan diusung.
Bertempat di Masjid Kampus Unhas Makassar, acara
bedah buku ini dihadiri ribuan orang. Lebih dari 1200 peserta laki-laki
memenuhi lantai 2 dan 800-an muslimah memenuhi lantai 1. Sebagian peserta
yang lain juga sampai naik ke lantai 3.
Tujuan
kegiatan ini, selain untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya syiah, juga untuk
membantu MUI dalam mensosialisasikan buku Panduan MUI yang diterbitkan sejak
September 2013 lalu.
Pembukaan
kegiatan bedah buku nasional ini dimulai pada pukul 08.45 WITA. Ust.
Fahmi Salim, MA selaku perwakilan MUI Pusat memberikan sambutan dan membuka
acara ini secara resmi.
Setelah
acara pembukaan, bedah buku pun dimulai. Tiga orang pemateri didaulat
sebagai pembedah buku tersebut.
Pemateri
pertama yang juga tergabung dalam Tim Penulis MUI, Ust. H. Fahmi Salim, MA,
membawakan materi dalam Bab I dan Bab IV buku ini yakni “Sejarah Syi’ah” dan
“Respon MUI tentang Faham Syiah”.
Pemateri
kedua, Ust. DR. H. Yusri Muh. Arsyad, MA membawakan materi dalam bab II buku
ini, “Penyimpangan Ajaran Syi’ah”
Pemateri
terakhir, Ust. Rahmat Abd. Rahman, Lc.,MA membawakan materi dalam bab III buku
ini, “Pergerakan Syiah di Indonesia dan Penyebarannya”.
Pemaparan
materi dari ketiga pembedah buku mengundang antusiasme peserta dan semakin
menyadarkan mereka akan bahaya dan kesesatan syiah.
Setelah
pemaparan materi, tiga orang penanya dipersilakan menyampaikan pertanyaan untuk
dijawab oleh ketiga pemateri. Tidak semua pertanyaan, khususnya
pertanyaan lewat tulisan bisa dijawab mengingat waktu yang sangat terbatas.
Setelah
sesi tanya jawab, acara dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi Gerakan Makassar
Sunni yang disampaikan oleh Ketua LPPI Makassar, KH. Said Abdul Shomad, Lc.
Sumber:
http://fsiriunm.wordpress.com