Selasa, 25 Maret 2014

Saudariku, Jaga Fitrahmu Dengan Berhijab

Saudariku, Jaga Fitrahmu Dengan Berhijab
Wahai saudariku, berhijab tak bisa dipisahkan dari keseharian wanita muslimah. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga fitrah, menghormati serta memuliakan dirimu. Dibalik kewajiban berhijab bagi wanita sungguh terdapat berbagai hikmah, keutamaan, dan manfaat yang besar. Dengan berhijab, akan tampak akhlak yang mulia sebagai tanda kesucian dan kemuliaan. Sebagaimana firman Allah SWT,
”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu perempuanmu, da istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.“ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
Hijab adalah penutup aurat wanita dan ini merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah SWT.
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al A’raf: 26)
Wahai saudariku, banyak diantara kita sudah jauh dari fitrahnya dalam berhijab. Mereka tidak sadar telah menyebarkan fitnah dimana-mana. Banyaknya pakaian-pakaian yang mempertontonkan aurat dianggap sebagai sesuatu yang modern. Mereka menganggap bahwa inilah masyarakat modern. Bahwa inilah kemajuan. Bahkan mereka menganggap menutup aurat itu adalah suatu kemunduran. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Bahwasanya akan muncul wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim).
Wahai saudariku, tubuhmu adalah perhiasan bagi suamimu, perhiasan yang harus engkau tutup, fitnah bagi laki-laki yang belum halal bagimu. Relakah jika suatu yang sangat berharga bagimu diumbar  di hadapan laki-laki. Relakah jika laki-laki yang belum halal memandang kecantikan wajahmu. Relakah rambut cantik yang engkau miliki dilihat setiap orang yang bertemu denganmu. Relakah laki-laki hidung belang yang memiliki penyakit di hatinya berniat busuk terhadapmu. Bukankah Allah ta’ala sudah memberikan kepadamu sebuah benteng dari laki-laki yang hatinya memiliki penyakit sehingga tidak bisa menembus kesucian dan kehormatan dirimu disebabkan hijab yang menutupi seluruh tubuhmu. Sungguh islam begitu menjaga dirimu.
Wahai saudariku, ketahuilah bahwa di dalam hati kita ada keimanan dan kecemburuan terhadap agama ini. Kita tidak akan ridha dengan keadaan seperti ini. Karena apabila wanita telah memperlihatkan auratnya, maka para pemuda pun mengikuti syahwatnya, kemudian akhirnya tersebarlah zina. Dan dengan zina itulah kemudian tersebar bencana. Berbagai macam bencana dan malapetaka terus datang akibat perbuatan-perbuatan buruk dan keji, salah satunya adalah perbuatan tidak menutup aurat. Seakan-akan keimanan itu telah pudar. Ataukah kehidupan dunia telah menghiasi dan mendominasi mereka? Sehingga ia lupa kepada Allah Rabbul ‘alamin. Ingatlah kisah nabi Adam ‘Alaihis salam ketika diusir dari surga karena memakan buah yang dilarang untuk di makan. Maka akibatnya terbuka aurat mereka.
Wahai saudariku, Ketahuilah dan sadarilah! Sesungguhnya wanita adalah parameter baiknya suatu bangsa. Baiknya wanita adalah tanda kebaikan suatu bangsa. Dan hancurnya wanita adalah merupakan kehancuran suatu bangsa. Maka apabila wanita itu mempertontonkan auratnya dan apabila wanita itu sudah dicabut rasa malunya, pertanda bangsa itu akan hancur dan binasa. Karena di rahim wanitalah anak bangsa dikandung. Kemudian dari payudaranyalah mengalir makanan untuk menyambung hidup anak tersebut. Dengan kasih sayangnyalah mereka mulai hari-harinya. Maka apa jadinya jika mereka hidup dibawah asuhan dan pendidikan wanita yang tidak punya rasa malu, dan senantiasa mempertontonkan auratnya kepada orang-orang yang bukan mahramnya. Tentu saja mereka tidak akan jauh dari induknya. Padahal seluruh anak adam yang lahir ke dunia adalah suci. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Setiap anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.”
Wahai saudariku, marilah kita mencontoh para shahabiyah. Betapa ketundukan mereka kepada Allah yang sangat luar biasa. Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat tentang hijab, dan ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mewajibkan jilbab, mereka segera mengambil tirai atau gorden-gorden rumahnya untuk menutup auratnya. Mereka tidak pernah berkata “panas”. Mereka pun tidak pernah berkata “bagaimana dan mengapa?”. Segera mereka berkata “sami’na wa atha’na”, “kami mendengar dan kami ta’at”.

Wahai saudariku, pakailah hijab syar’i dan istiqamahlah dengan hijab itu. Niscaya engkau akan terjaga dari fitnah. Dengan berhijab maka pahala untukmu akan mengalir sepanjang hari, tetapi jika engkau tidak berhijab di depan bukan mahram maka aliran dosalah yang akan engkau dapatkan. Sungguh, lebih baik merasa kepanasan di dunia karena berhijab dari pada kepanasan di neraka karena melepas hijab. Jangan engkau termakan syubhat-syubhat seputar hijab. Yakinlah bahwa hijab adalah kewajiban dari Allah untuk seluruh muslimah di manapun dia berada dan hijab itu hanyalah mendatangkan kebaikan untukmu. Pegang kuat-kuat prinsip ini, buang jauh-jauh hawa nafsu dan syubhat-syubhat yang menerpamu.
 ditulis oleh : Hijrah Wulan Sari

0 komentar:

Posting Komentar