Saudariku, Jaga Fitrahmu Dengan Berhijab
Wahai saudariku,
berhijab tak bisa dipisahkan dari keseharian wanita muslimah. Hal ini
dimaksudkan untuk menjaga fitrah, menghormati serta memuliakan dirimu. Dibalik
kewajiban berhijab bagi wanita sungguh terdapat berbagai hikmah, keutamaan, dan
manfaat yang besar. Dengan berhijab, akan tampak akhlak yang mulia sebagai
tanda kesucian dan kemuliaan. Sebagaimana firman Allah SWT,
”Wahai
Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu perempuanmu, da istri-istri
orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.“ Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu.
Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.
Al Ahzab: 59).
Hijab adalah penutup aurat wanita
dan ini merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah SWT.
“Hai
anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup
auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling
baik.” (QS. Al A’raf: 26)
Wahai saudariku,
banyak diantara kita sudah jauh dari fitrahnya dalam berhijab. Mereka tidak
sadar telah menyebarkan fitnah dimana-mana. Banyaknya pakaian-pakaian yang
mempertontonkan aurat dianggap sebagai sesuatu yang modern. Mereka
menganggap bahwa inilah masyarakat modern. Bahwa inilah kemajuan. Bahkan mereka
menganggap menutup aurat itu adalah suatu kemunduran. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah
mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Bahwasanya akan
muncul wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
“Ada
dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang
memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita
yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti
punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak
akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan
sekian.” (HR. Muslim).
Wahai saudariku,
tubuhmu adalah perhiasan bagi suamimu, perhiasan yang harus engkau tutup,
fitnah bagi laki-laki yang belum halal bagimu. Relakah jika suatu yang sangat
berharga bagimu diumbar di hadapan laki-laki. Relakah jika laki-laki
yang belum halal memandang kecantikan wajahmu. Relakah rambut cantik yang
engkau miliki dilihat setiap orang yang bertemu denganmu. Relakah laki-laki
hidung belang yang memiliki penyakit di hatinya berniat busuk terhadapmu.
Bukankah Allah ta’ala sudah
memberikan kepadamu sebuah benteng dari laki-laki yang hatinya memiliki
penyakit sehingga tidak bisa menembus kesucian dan kehormatan dirimu disebabkan
hijab yang menutupi seluruh tubuhmu. Sungguh islam begitu menjaga dirimu.
Wahai saudariku,
ketahuilah bahwa di dalam hati kita ada keimanan dan kecemburuan terhadap agama
ini. Kita tidak akan ridha dengan keadaan seperti ini. Karena apabila wanita
telah memperlihatkan auratnya, maka para pemuda pun
mengikuti syahwatnya, kemudian akhirnya tersebarlah zina. Dan dengan zina
itulah kemudian tersebar bencana. Berbagai macam bencana dan malapetaka terus
datang akibat perbuatan-perbuatan buruk dan keji, salah satunya adalah
perbuatan tidak menutup aurat. Seakan-akan keimanan itu telah pudar.
Ataukah kehidupan dunia telah menghiasi dan mendominasi mereka? Sehingga ia
lupa kepada Allah Rabbul ‘alamin.
Ingatlah kisah nabi Adam ‘Alaihis
salam ketika diusir dari surga karena memakan buah yang dilarang untuk
di makan. Maka akibatnya terbuka aurat mereka.
Wahai saudariku,
Ketahuilah dan sadarilah! Sesungguhnya wanita adalah parameter baiknya suatu
bangsa. Baiknya wanita adalah tanda kebaikan suatu bangsa. Dan hancurnya wanita
adalah merupakan kehancuran suatu bangsa. Maka apabila wanita itu
mempertontonkan auratnya dan apabila wanita itu sudah dicabut rasa
malunya, pertanda bangsa itu akan hancur dan binasa. Karena di rahim wanitalah
anak bangsa dikandung. Kemudian dari payudaranyalah mengalir makanan untuk
menyambung hidup anak tersebut. Dengan kasih sayangnyalah mereka mulai
hari-harinya. Maka apa jadinya jika mereka hidup dibawah asuhan dan pendidikan
wanita yang tidak punya rasa malu, dan senantiasa mempertontonkan auratnya
kepada orang-orang yang bukan mahramnya. Tentu saja mereka tidak akan jauh dari
induknya. Padahal seluruh anak adam yang lahir ke dunia adalah suci.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“Setiap
anak yang dilahirkan, dilahirkan di atas fitrah (islam). Kedua ibu bapaknyalah
yang menjadikan dia sebagai Yahudi atau Nashrani atau Majusi.”
Wahai saudariku,
marilah kita mencontoh para shahabiyah. Betapa ketundukan mereka kepada Allah
yang sangat luar biasa. Ketika Allah Subhanahu
wa ta’ala menurunkan ayat tentang hijab, dan ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mewajibkan
jilbab, mereka segera mengambil tirai atau gorden-gorden rumahnya untuk
menutup auratnya. Mereka tidak pernah berkata “panas”. Mereka pun tidak pernah berkata “bagaimana dan mengapa?”. Segera mereka berkata “sami’na wa atha’na”, “kami mendengar dan kami ta’at”.
Wahai saudariku,
pakailah hijab syar’i dan istiqamahlah dengan hijab itu. Niscaya engkau akan
terjaga dari fitnah. Dengan berhijab maka pahala untukmu akan mengalir
sepanjang hari, tetapi jika engkau tidak berhijab di depan bukan mahram maka
aliran dosalah yang akan engkau dapatkan. Sungguh, lebih baik merasa kepanasan
di dunia karena berhijab dari pada kepanasan di neraka karena melepas hijab.
Jangan engkau termakan syubhat-syubhat seputar hijab. Yakinlah bahwa hijab
adalah kewajiban dari Allah untuk seluruh muslimah di manapun dia berada dan
hijab itu hanyalah mendatangkan kebaikan untukmu. Pegang kuat-kuat prinsip ini,
buang jauh-jauh hawa nafsu dan syubhat-syubhat yang menerpamu.
ditulis oleh : Hijrah Wulan Sari






0 komentar:
Posting Komentar